Organisasi Papua Merdeka (OPM) kian berani. Hanya dalam rentang waktu tiga bulan mereka menewaskan sekitar 35 orang. Gerakan yang dimotori Egianus Kogoya, membunuh, menyandera, menganiaya, bahkan memperkosa sandera. OPM diduga menguat ditandai dengan persenjataan dan jumlah personil mereka yang belum diketahui secara pasti jumlahnya. Medan gerilya yang luas di hutan Papua juga menguntungkan mereka.
Sebagaimana diberitakan viva.co.id (22/3/2018) menguatnya OPM, ditandai dengan tantangan Mayor Jenderal G. Lekkagak Telenggen, panglima perang OPM. Ia memperingatkan OPM siap berperang dengan TNI dan Polri. Pernyataan itu diumumkan dan siarkan langsung oleh Mayjen Lekkagak, beberapa saat setelah Lekkagak dilantik menjadi Kepala Staf Operasi Pusat Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB).
Kekuatan OPM kian meningkat dengan senjata organik hasil rampasan TNI dan selundupan dari negara lain (Foto: viva.co.id)
Dari sisi senjata, dari akun resmi TPNPB didapatkan informasi mereka memiliki senjata laras jenis AK 47, M1, M14 hingga SS1. Mereka bahakan memiliki senapan serbu mesin Steyr AUG, senapan serbu buatan Austria. TNI juga menyimpulkan, senjata milik OPM berasal bukan hanya dari rampasan saat mereka menyerbu pos-pos TNI, namun juga dari luar Papua. Indikasi senjata-senjata yang berhasil direbut dari OPM tak memiliki indeks senjata TNI dan Polri.
Selain memiliki senjata serbu modern, TPNPB juga mengklaim memiliki pasukan elite. Pasukan ini merupakan penembak jitu yang siap membunuh lawan. Berdasarkan foto yang disiarkan TPNPB, tampak sniper itu memiliki senjata penembak jarak jauh. Pasukan elite ini juga mengenakan pakaian penyamaran seperti yang dipakai tentara kebanyakan.
TPNPB mengklaim memiliki pasukan tempur yang mampu merepotkan TNI dan Polri. Bahkan, mereka menyatakan telah menyiapkan senjata dan aturan berperang. Mayjen Lekkagak menyatakan pihaknya memiliki ribuan personel yang siap menghadapi ribuan personil TNI-Polri.
Lalu dari mana senjata-senjata mereka dapatkan? Berdasarkan pengakuan Lekkagak, mereka mendapatkan senjata-senjata itu dengan cara merampasnya dari prajurit TNI dan personel Polri. Salah satunya seperti kasus perampasan senjata oleh TPNPB terjadi di Pasar Sinak, Puncakjaya, Papua. TPNPB juga telah menginstruksikan pasukannya di seluruh Papua, untuk bertahan di dalam hutan dan melakukan perang secara gerilya.
Selain merampas, senjata itu juga diduga diselundupkan dari negara lain melalui Papua Nugini dan Filipina sebagaimana diberitakan tempo.co (4/7/2014). Persoalannya wilayah kaya tambang dan penduduknya masih belum tersentuh modernisasi, konflik sangat mudah disulut oleh kelompok-kelompok kepentingan. Negara-negara lain tentu berkepentingan menguasai wilayah kaya tambang. Biasanya dalam “perang kotor” mereka mengirim tentara bayaran, agar keterlibatan negara lain tak terdeteksi.
Campur tangan asing di Papua menguat ketika bbc.com (5/12/2012) melaporkan Pengadilan Australia mendakwa seorang warga mengikuti pelatihan di Ukraina, sebagai persiapan untuk membantu kelompok bersenjata Papua Barat. Pengadilan mendakwa Gerard Michael Little merencanakan untuk terlibat dalam konflik melawan pemerintah Indonesia di Papua Barat. Permintaan Little agar bebas dengan jaminan ditolak karena dianggap dia dapat melarikan diri.
Para tentara bayaran, biasanya melatih para pemberontak. Terkadang mereka menjadi operator perlawanan tergantung kontrak kerja dengan perusahaan atau negara yang menyewa mereka. Tidak menutup kemungkinan tentara bayaran masuk ke Papua dengan menyamar sebagai konsultan tambang, LSM, bahkan peneliti. Inilah yang harus diwaspadai pemerintah.
sumber : https://buc.kim/d/3B8UogFjBeLL

